Pages

Jumat, 26 Maret 2010

Mengatasi Perilaku Batita yang Menjengkelkan

artikel ini diambil dari web inspiredkids...
kenapa mencari artikel ini karena.. melihat anak ku (Rasty) yang mulai terlihat egosentisnya...
pusing rasanya kalau dia lagi bertingkah yang aneh, keras dan ga karuan...
bawaannya gondokkkk.... sedih, kesel.... tapi bagaimana ya.. namanya anak sendiri....
ujung-ujungnya berkaca diri "apakah dulu aku seperti dia?"
ternyata... yach memang gampang-gampang sulit menjadi ORang tua yang baik...

Alhamdulillah dengan saya membaca artikel ini, saya paham, dapat berfikir positif dan cermat dalam bertindak.
semoga teman-teman yang membaca bisa lebih paham dan dapat mengatasi prilaku anak2 anda.




Si kecil yang keras kepala, suka berteriak-teriak atau berebutan mainan dengan temannya adalah
pemandangan biasa dalam kehidupan batita. Meski menurut ahli, perilaku tersebut masih tergolong normal, namun harus diakui bahwa hal tersebut sangat mengganggu atau bahkan membuat orangtuanya merasa malu. Agar tak berkembang menjadi kebiasaan buruk, tanganilah dengan segera secara tepat. William Sears, MD, dalam tulisannya Perilaku Anak yang Normal, Tetapi Mengganggu, memberikan tipsnya:
  1. Keras kepala
    Anak batita berumur dua tahun dikenal memiliki pola pikir yang kaku ketika mengasosiasikan orang, tempat dan kejadian, sehingga layak dideskripsikan keras kepala.
    1. Prinsip utama yang telah lama diakui oleh para pakar negosiasi bila Anda ingin orang lain menggunakan pola pikir Anda, adalah memahami pola pikir mereka, baru kemudian secara bertahap menggiringnya ke pola berpikir Anda. Misalnya, untuk mengurangi “kericuhan” yang mungkin terjadi saat Anda dan si Kecil berbelanja ke supermarket, cobalah ciptakan suatu rutinitas yang menyenangkan baginya. Kalau si Kecil suka lolipop, buatlah dia berpikir bahwa setiap kali selesai mengambil kaleng susu, orangtuanya akan segera menuju lorong gula-gula untuk memberikan lolipop padanya. Si Kecil akan ingat rutinitas menyenangkan itu, dan selanjutnya Anda pun dapat berbelanja dengan tenang.
    2. Kenalkan kedisiplinan sedini mungkin dengan menyampaikan apa yang Anda harapkan, apa manfaatnya dan tingkah laku yang tidak bisa Anda toleransi beserta konsekuensinya. Lakukanlah dengan penuh kasih, agar si kecil lebih mudah berada dalam batasan yang Anda tetapkan.
    3. Pahami tahapan perkembangan batita agar Anda bisa menetapkan harapan yang pas, tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, untuk usianya.
    4. Batasan yang jelas dapat membuat si Kecil tumbuh dan berkembang tanpa harus membuang waktu dengan hal yang tidak perlu. Saat si Kecil melanggar batas, latihlah diri Anda untuk mengatakan tidak secara bijak tanpa harus mengontrol mereka seperti boneka. Misalnya, daripada melarang si kecil memegang sesuatu dengan berteriak dari sofa Anda, lebih baik datangi dan pegang tangannya, tatap mata untuk minta perhatiannya dan katakan alasan mengapa tidak boleh dalam bahasa sederhana yang tidak bertele-tele. Tawarkan hal lain sebagai alternatif yang sama menariknya.
    5. Bersikaplah konsisten dalam menegakkan disiplin pada si kecil karena bagaimanapun proses pendisiplinan anak memerlukan usaha yang tiada henti.
    6. Jangan mengikat si Kecil terlalu kuat. Selama tidak membahayakan, biarkan si Kecil merasakan dampak dari perbuatannya.
  2. Berebut mainan
    Saat dua hingga tiga anak batita berkumpul untuk bermain, pemandangan berebutan mainan hampir jadi pemandangan biasa. Walau sudah memegang mainannya sendiri, sepertinya si Kecil belum merasa puas bila belum berupaya merebut mainan temannya. Bagaimana mengatasinya?
    1. Jika Anda tahu si Kecil dan temannya sama-sama memiliki sikap agresif, usahakan untuk duduk di antara mereka dan tunjukkan betapa menyenangkannya bermain dengan manis.
    2. Sekali-kali Anda juga perlu menjadi wasit yang memberikan dan menentukan kapan waktunya sebuah mainan dimainkan si Kecil dan kapan harus dipinjamkan kepada temannya.
    3. Jadilah contoh bagi anak bagaimana memainkan mobil-mobilan hingga bisa meluncur, agar tidak digunakan oleh si Kecil untuk melempar temannya
    4. Mainan orang lain memang selalu tampak lebih menarik bagi si Kecil. Ajarkan kepadanya untuk berbagi mainan kepada temannya sebagai cara untuk mendapat pinjaman, bukannya merebut.
    5. Jangan biasakan si Kecil merebut. Andalah yang harus mengajarinya dengan cara meminta si Kecil untuk memberikan sesuatu kepada Anda, bukan mengambil dengan cepat dari tangannya.
  3. Pemarah
    Ada dua hal menurut William yang umumnya dapat menyebabkan anak marah. Pertama, jika ia berkeinginan untuk melakukan sesuatu, namun keinginan itu kadang jauh lebih besar dari kemampuan yang dimilikinya. Maka, jika kemudian ia marah, masih dapat dikatakan wajar. Kedua, ketika si Kecil baru menemukan bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu, tetapi saat ingin melakukannya, ia mendapat larangan terutama dari orang yang dicintainya. “Adalah sulit baginya untuk menerima kekuatan dari luar yang bertentangan dengan keinginannya,” katanya. Si kecil belum tahu bagaimana mengelola emosinya secara logis, maka muncullah reaksi berupa kemarahan. Apa yang dapat Anda lakukan?
    1. Cobalah untuk memahami apa yang menyebabkan dia marah. Apakah dia lelah dan ingin tidur, tetapi karena Anda sedang berada di supermarket yang ramai, dia tidak bisa melakukannya? Ataukah ia merasa lapar? Mencari penyebabnya dapat membantu Anda meredakan kemarahannya.
    2. Kenali tanda-tanda si kecil akan marah, seperti bosan, merengek, tidak berinteraksi dengan orang lain atau sesuatu, dan tanganilah segera sebelum ia benar-benar marah.
    3. Tetaplah tenang, jangan gusar saat ia marah. Jika si kecil sudah tak terkendali, ia membutuhkan orang yang terkendali.
    4. Perhatikan juga cara Anda marah, karena ia melihat Anda sebagai contoh untuk ditiru dan menjadikannya suatu standar.
    5. Jangan mencair dengan mengubah ”tidak” yang beralasan menjadi ”ya” hanya karena dia marah. Misalnya, si Kecil menangis meraung-raung di depan umum untuk mendapatkan sesuatu yang Anda larang. Karena malu, Anda meluluskannya. Bila itu yang Anda lakukan, si Kecil akan belajar mengembangkan sikap negatif dan cenderung mengulanginya lagi.
    6. Saat si Kecil kehilangan kontrol dan membutuhkan kontrol, cobalah gunakan pendekatan dengan kata-kata dan pelukan yang menenangkan. Meski si Kecil meronta selama beberapa menit meminta Anda membebaskannya, tak lama kemudian dia akan mencair dalam pelukan Anda seolah berterima kasih karena telah menyelamatkannya. Seperti orang dewasa, anak Kecil pun tak ingin marah-marah sendirian, dia memerlukan sosok menyejukkan yang dapat memberikan rasa aman kepadanya.
  4. Menggigit dan memukul
    Menurut William, menggigit dan memukul adalah bentuk komunikasi yang normal bagi bayi. Karena pada usia tersebut, aktivitas mereka masih berada di seputar mulut dan tangan. Bayi suka bereksperimen dengan memukul dan menggigit untuk mencari tahu dan mendapatkan rasa maupun reaksi dari tindakannya tersebut. Ada cara mudah untuk mengatasi si tukang gigit dan pukul seperti berikut ini:
    1. Beri alternatif dengan menawarkan sikap bersosialisasi lain yang baik. Misalnya, ”Ayo peluk mama ,” atau mengajaknya ”tos”.
    2. Lacak pemicunya dengan memperhatikan dan mencatat hal-hal yang menyebabkan si Kecil ingin menggigit dan memukul. Apakah karena terlalu banyak orang dalam suatu ruangan ataukah karena si Kecil merasa lelah dan bosan? Pelajari untuk mencegahnya berulang.
    3. Jika Anda melihat tanda-tanda si kecil akan ”beraksi” segera lunakkan hatinya dengan mengalihkan pada permainan yang lembut, seperti memeluk boneka beruang atau menyayangi binatang. Penting bagi anak untuk mengimbangi permainan yang agresif dengan yang lembut.
    4. Bila anak menggigit atau menyakiti anak lain, segera pisahkan dan isolasi dia di tempat lain selama beberapa saat dan tergurlah dia dengan mengatakan, ”Tindakan itu menyakitkan dan menyakiti orang lain itu tidak benar.” Doronglah anak untuk meminta maaf. Penghentian dan isolasi segera diharapkan dapat membuat anak menghubungkan bahwa tindakan yang dilakukannya telah membawa konsekuensi tidak menyenangkan.
    5. Kalau mengigit dan memukul adalah untuk mencari perhatian, alihkanlah tindakannya kepada kebiasaan yang positif yang dapat memberikan perhatian kepadanya. ”Pujilah tingkah lakunya yang baik dan kecamlah tindakannya yang senang menggigit,” kata William.
  5. Lengkingan dan rengekan
    Menurut William saat bayi dan batita melakukan lengkingan dan rengekan, sebenarnya mereka sedang mencoba seberapa kuatkah suara yang dikeluarkannya dan reaksi apakah yang mungkin timbul dari tindakannya tersebut. Karena itu, saat si Kecil mulai berteriak-teriak, cobalah contohkan suara yang lembut kepadanya dengan berbisik. Ketika si Kecil berbicara dengan suara yang baik dan lembut, segeralah berikan reaksi yang baik pula kepadanya, sehingga dia tahu dengan suara yang lembut dia mendapatkan reaksi yang baik pula. Sebaliknya jika ia mulai merengek-rengek, ingatkan si Kecil dengan jenis suara yang ditanggapi dengan baik. Di samping belajar bahwa rengekan tidak berhasil, bahasa anak juga akan lebih fasih karena anak dilatih untuk menyampaikan sesuatu dengan baik, bukan dengan suara rengekan yang tidak jelas.
    Bisa juga dicoba, saat si Kecil mulai berteriak, bawalah dia keluar dan berteriak-teriaklah sambil bermain dengannya. Lakukan itu setiap kali dia mulai berteriak di dalam rumah. Dengan demikian anak akan mengasosiasikan bahwa suara keras memerlukan tempat yang tepat, misalnya hanya dapat dilakukan di luar rumah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar